728x90 AdSpace

  • Berita Terkini

    Friday, June 13, 2014

    Surat untuk Mr. Calon Presiden RI ...

    Syarifudin Yunus

    Hari ini fitnah beredar dimana-mana. Tiba-tiba rakyatmu suka pada kegiatan mencaki-maki. Menjelek-jelekkan satu sama lain. Bahkan, kita semua menjadi gemar membongkar “kebobrokan” masa lalu.

    Mr. Calon Presiden, kemarin sahabat saya terpecah karena mendukung satu di antara kamu.

    Mr. Calon Presiden, hari ini tetangga saya tiba-tiba membenarkan persepsinya sendiri tanpa mau peduli lagi pada pendapat orang lain.

    Mr. Calon Presiden, esok rakyat kita yang di kampung atau di kota, seketika jadi “orang bingung” dalam memilih. Dan itu karena kamu.

    Mr. Calon Presiden, setelah kamu terpilih nanti, tolong kembalikan perbedaan moral yang sempat meruncing dan pembenaran persepsi rakyat bangsa ini. Agar tidak lagi bicara tentang AKU atau KAMU. Tapi tentang KITA.

    Mr. Calon Presiden, kamu paham tidak sih? Ini suara hati seorang rakyat jelata, salah satu anak bangsamu …

    Mr. Calon Presiden…

    Rekapitulasi hasil Pileg memang telah usai. Tak jauh beda dengan quick count yang beredar. Genderang siapa “CAPRES-CAWAPRES” dari 2 pasangan yang ada telah ditabuhkan. Mereka ajarkan pada kami bagaimana berkoalisi tanpa izin. Hingga bikin “keributan internal”. Ada lagi yag segera “kawin” tanpa menuntut apapun. Belum lagi yang wara-wiri, nyari pasangan, nyari kecocokan pengen “kawin” atau tidak. Lagi-lagi, kami diajarkan betapa “silaturahmi” penting asal ada motifnya. Puisi, Kuda, Helikopter, Nasi Kebuli pun ikut jadi “bumbu” di seputar kamu, Mr. Calon Presiden. Kini, soal kertas di kepitan baju, hingga pakaian putih bak “proklamator” pun menjadi ocehan sehari-hari.

    Entah, apa yang sedang kita pertontonkan atau kami sedang menonton apa?

    Mr. Calon Presiden…
    Hari ini, esok dan hingga 9 Juli 2014 nanti, kami dan rakyat akan terus mengikuti “euforia” sepak terjang kamu, Mr. Calon Presiden. Suka atau tidak, pro dan kontra makin marak. Black campaign, mengungkap “aib” para Mr. Calon Presiden sudah jadi makanan sehari-hari kami. Omongan berbobot atau omong kosong jadi beda tipis. Tidak sedikit yang dicampur emosi. Atau fanatisme tanpa sebab. Ada yang berdasar fakta, ada yang sebagian sisi saja. Ada yang benar, ada yang salah. Bahkan sedikit kasar. Yang hebat lagi, setiap individu kami “bertindak” seperti yang paling benar sendiri. Persepsi orang lain salah, yang benar cuma AKU.

    Itulah kenyataan yang terjadi hari ini, Mr. Calon Presiden. Mungkin ke depan, kita semua akan makin vulgar. Mungkin makin malu-maluin. Ahh, sudahlah Mr. Calon Presiden, ini suara hati seorang rakyat jelata, salah satu anak bangsamu

    Mr. Calon Presiden…

    Saya tulis ini karena tertarik dengan fenomenamu, Mr. Calon Presiden. Sekalipun bangsa ini tengah belajar demokrasi, apakah ini cara yang pas dalam berdemokrasi? Ayo kita mikir bareng Mr. Calon Presiden…

    Terus terang Mr. Calon Presiden, kamu dan pengikutmu itu justru sedang mengajarkan cara berpolitik yang tidak elegan. Saling menjelekkan. Saling fitnah. Saling mencari borok dan aib. Mengapa bukan “berperang” tentang kemana bangsa ini kamu akan bawa? Lalu, mau diapakan rakyat kita nanti? Kita ini sekarang seperti apa dan mau dijadikan apa?

    Sementara korupsi tetap jalan terus. Belum lagi, sebagian anak-anak bangsa yang yang mengalami kekerasan seksual, pedofilia ada dimana-mana Mr. Calon Presiden. Ahh, sudahlah Mr. Calon Presiden, ini suara hati seorang rakyat jelata, salah satu anak bangsamu …

    Mr. Calon Presiden…
    Berhentilah sejenak. Kita sama-sama introspeksi diri. Kita masih bisa kok berdemokrasi tanpa perlu menjelekkan yang lain. Berdemokrasi tanpa fitnah. Fair Play saja. Demokrasi yang tidak menyesatkan pikiran, jiwa, dan raga. Kita memang tidak sedang menuju disintegrasi bangsa secara fisik Mr. Calon Presiden. Tapi kita sedang dalam perjalanan menuju disintegrasi keharmonian. Meruncingnya budaya untuk berbeda dengan emosi.

    Menajamnya budaya “membenarkan pendapat diri sendiri”. Budaya egois, budaya keAKUan. Nantinya jadi budaya “Anti Sosial” karena berseteru itu menjadi lumrah. Ahh, sudahlah Mr. Calon Presiden, ini suara hati seorang rakyat jelata, salah satu anak bangsamu …

    Mr. Calon Presiden…
    Saya gundah. Galau. Tapi saya juga ngeri. Sedikit takut. Takut peradaban bangsa kita hancur. Hanya karena ingin “memilih” Mr. Calon Presiden. Kasihan anak cucu kita nanti Mr. Calon Presiden. Apa yang kita bela hari ini seolah untuk hari ini saja? Padahal bangsa ini akan tetap ada di saat kita MATI, saat kita TIADA lagi.

    Mengapa semua itu bisa terjadi Mr. Calon Presiden ?
    Karena kita sedang suka pada 1) Menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah, 2) Membenarkan kebiasaan daripada membiasakan kebenaran, dan 3) Membuat-buat alasan atau berbuat karena ada alasan.

    Kita sekarang lebih senang berdebat secara negatif di depan publik lalu melakukan usaha defensif, terlepas dari salah atau benar. Kita bilang persepsi kita yang paling benar tanpa mau berlapang dada bila ternyata salah.

    Mr. Calon Presiden…
    Kamu juga manusia kan ? Nah, manusia itu gak pernah puas, ingin selalu lebih dan berlebihan. Mungkin, kamu ingin berkuasa untuk melindungi diri dan kelompokmu Mr. Calon Presiden. Saya khawatir nanti kamu merasa menjadi orang yang berjasa sehingga selalu ingin dihargai dan diberi imbalan yang pantas menurut kamu, bukan menurut aturan.

    Hati-hati Mr. Calon Presiden, saya khawatir saat berkuasa nanti kamu jadi orang yang tidak kepengen MATI. Mati urusan Tuhan, Mr. Calon Presiden.

    Mr. Calon Presiden…
    Saya cuma mau memberi masukan saja:
    - Hidup cuma sekali dan sebentar, jadi lakukanlah yang terbaik buat umat dan rakyat, bukan untuk diri sendiri.
    - Tuhan selalu melek dan tahu apa yang kita kerjakan, jadi bersiaplah menerima pembalasannya.
    - Manusia pasti bikin salah, jadi minta maaflah kepada mereka
    - Semua tergantung niat, jadi kalau baik jangan takut disalahkan tapi dengar juga saran orang lain.
    - Hati-hati dalam tindakan dan pujian, karena di saat lain akan bisa menjadi bumerang.
    - Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya di hadapan Tuhan

    Mr. Calon Presiden…
    Itu saja pesan saya buatmu. Jadikanlah bangsa ini lebih baik karena kamu punya niat yang baik. Memang hari ini, kita bergerak dari perbedaan. Beda antara AKU dan KAMU. Tapi esok, tolong kamu kembalikan bangsa ini menjadai KITA. Kalau kamu tidak dapat penghargaan di dunia ini, yakinlah akan ada “penghargaan yang luar biasa” di akhirat
    nanti.

    Terima kasih Mr. Calon Presiden…Yakinlah, sungguh “kesempurnaan” itu ada karena ada “ketidaksempurnaan” di tempat lain. Itulah kehidupan, Mr. Calon Presiden.




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Surat untuk Mr. Calon Presiden RI ... Rating: 5 Reviewed By: r3nc0n9
    Scroll to Top