ROBI AKBAR
Anakku Menghayati Pagi
anakku menghayati pagi
dalam keheningan batu dan kelopak kembang kertas
yang jatuh di taman
ia dengar angin bersenandung
melagukan irama asing dari negri yang jauh
merekahkan kekosongan di mulut kepompong
menarikan rumputan dan ilalang dalam kenang
anakku menghayati pagi
menyapa udara yang tenang
di taman yang lengang
ia dengar burungburung berkicauan
di antara jarijari kecilnya yang meraba gerimis
begitu ritmis
Anakku Membaca
anakku membaca sobekan sejarah
pada selembar koran di pinggir comberan
ia membaca hutanhutan yang resah dalam kepunahan
pohonpohon kebajikan tercerabut sampai ke akarnya
ribuan binatang lari dan hilang entah ke mana
angin sasar
udara tercemar
siapakah yang membakar hutanhutan dan membangun pabrikpabrik keserakahan itu? tanyanya di dalam hati
anakku membaca juga kotakota roboh dan orangorang bersiap dengan segala pembenaran sebagai alasan
ia membaca kakikaki zaman berpatahan
mengejar nasibnya sendiri
sementara tangantangan waktu tak mampu menahan laju kecemasannya
anakku membaca anakanak lain
menggendong setumpuk buku yang gelisah menuju sekolah
belajar menghitung impian dan harapan yang semakin samar
lalu hujan
dan segala bencana membanjiri rumahrumah mereka
hingga tak ada lagi yang tersisa selain kepasrahan
anakku membaca sobekan sejarah
pada selembar koran di pinggir comberan
ketika diamdiam banjir menenggelamkannya ke comberan yang sama
bi'14
anakku membaca sobekan sejarah
pada selembar koran di pinggir comberan
ia membaca hutanhutan yang resah dalam kepunahan
pohonpohon kebajikan tercerabut sampai ke akarnya
ribuan binatang lari dan hilang entah ke mana
angin sasar
udara tercemar
siapakah yang membakar hutanhutan dan membangun pabrikpabrik keserakahan itu? tanyanya di dalam hati
anakku membaca juga kotakota roboh dan orangorang bersiap dengan segala pembenaran sebagai alasan
ia membaca kakikaki zaman berpatahan
mengejar nasibnya sendiri
sementara tangantangan waktu tak mampu menahan laju kecemasannya
anakku membaca anakanak lain
menggendong setumpuk buku yang gelisah menuju sekolah
belajar menghitung impian dan harapan yang semakin samar
lalu hujan
dan segala bencana membanjiri rumahrumah mereka
hingga tak ada lagi yang tersisa selain kepasrahan
anakku membaca sobekan sejarah
pada selembar koran di pinggir comberan
ketika diamdiam banjir menenggelamkannya ke comberan yang sama
bi'14
Anakku Sakit
ada boneka beruang meraungraung di kepalanya
sama persis seperti milik anak tetangga yang kulihat pagi tadi sebelum berangkat bekerja
anakku terbaring
badannya panas darah di dalam tubuhnya seperti mendidih
ia meracau ketika boneka beruang itu mencakarcakar ingin di hatinya
anakku sakit
dadaku serasa terhimpit
sakit
bi'12
ada boneka beruang meraungraung di kepalanya
sama persis seperti milik anak tetangga yang kulihat pagi tadi sebelum berangkat bekerja
anakku terbaring
badannya panas darah di dalam tubuhnya seperti mendidih
ia meracau ketika boneka beruang itu mencakarcakar ingin di hatinya
anakku sakit
dadaku serasa terhimpit
sakit
bi'12
Pagi yang Bening dan Lembar Cahaya
I
I
pagi yang bening itu
membuka lembarlembar cahaya
melepas angin dan kicau burungburung
dari kelopak matamu
jejak yang hapus
lantaran hujan merayakan kelam semalaman
seperti langkah jarumjarum jam yang meninggalkan waktu
jemariku meraba dinding kata yang tak terbaca
meyusur lorong gelap tanpa makna
kalimatkalimat terjebak dalam sajak
II
membuka lembarlembar cahaya
melepas angin dan kicau burungburung
dari kelopak matamu
jejak yang hapus
lantaran hujan merayakan kelam semalaman
seperti langkah jarumjarum jam yang meninggalkan waktu
jemariku meraba dinding kata yang tak terbaca
meyusur lorong gelap tanpa makna
kalimatkalimat terjebak dalam sajak
II
di pagi yang bening itu
kelopak matamu
merangkum dingin dan lirih erangan angin
medekap hening
daundaun asam yang menguning sebelum berguguran
lalu jemariku lumpuh
hilang rasa raba
tak bisa membaca
sajak yang terluka di lembar cahaya
bi'13-14

0 comments:
Post a Comment