728x90 AdSpace

  • Berita Terkini

    Saturday, April 12, 2014

    Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS



    BERSEDEKAP DI PINGGIR PINTU
    aku bersedekap di pinggir pintu seperti menanti tamu
    yang, konon, akan dating hari ini. tetapi karena kau meracau
    mungkin tamu yang sudah janji tak akan ke rumah ini
        dan biarlah pintu itu terbuka, aku tetap bersedekap
    di pinggir pintu. melupakan segala pertemuan,
    juga tamu yang mungkin sudah kembali menjadi burung

    mengepakkan bulu-bulunya, dari sayapnya memancur air
    melebihi sebagai hujan. menggenangi kampung
    menenggelamkan rumah, ternak-ternak hanyut

    barangkali saja aku salah menetapkan waktu: tak ada tamu
    yang akan dating hari ini. sedang aku sudah salah,
    kenapa aku cepat-cepat menuju pintu dan bersedekap?

        tak ada tamu yang datang hari ini
        dan biarlah pintu ini terbuka…

    15 Januari--2 Februari 2014





    TENTANG ASUH

    asuh anak pada perempuan asuh hidup di tangan lelaki

    maka untuk apa kita bertengkar? aku akan pergi mengasuh hidup
    sebelum matahari terbit dan pulang pada waktu yang entah
    ingat bahwa jalan tak selalu lurus tak pula berliku-liku
    bahkan seekor burung tahu di mana ia harus berumah
    dan membuang kotorannya

        jika anak berada di jemari perempuan, tangisnya
        akan tumpah di pangkuan lelaki         :  begitulah
        kalender sudah menetapkan hari-hari libur dan sakit

    aku sudah berjanji tak ada sakit bersemayam dalam diriku
    agar hidup bisa kuasuh. jika di tanganku telah menyanyi
    anak-anak, boleh Kaupanggil aku menuju lain Waktu!

    asuh anak pada perempuan asuh hidup di tangan lelaki

    perlukah ada waktu untuk pertengkaran?

    2 Februari 2014




    LALU GERIMIS

    1
    lalu gerimis dan kau mulai menimbang-nimbang
    apakah akan terus jalan atau diam-berdiang
    sementara malam menggelayut di pipimu
    "tak ada bintang apalagi bulan di sini," bisikmu

    sambil menyentuh malam, dan wajah yang ragu
    semakin mendamparkan tiap perahu akan berlayar

    2
    jangan menunggu bintang menyapamu
    ini musim-musim hujan, mawar akan segera mekar
    atau cepat berguguran. kamboja memutih
    wanginya menyeringai di tiap nisan

    kau tahu, terlalu sering merayakan desember
    hingga lupa terompet yang berjejer di jalan
    seperti sangkakala
    : kiamat

    3
    dan cahaya-cahaya yang genit di langit
    akan mati teriris ujung hujan

    4
    seperti meteor, kembang api meluncur
    ke udara pekat
    lalu sekarat

    di ujung desember yang hujan
    aku menemuimu
    dan matamu terpejam, bibirmu bergetar:

    "aku sudah jauh melayang
    untuk Pulang..."

    29-30 Desember 2013





    JADI SUNGAI UNTUK BERSAUH

    aku selalu menunggumu hingga kau datang
    meski aku berhujan dan tubuhku basah
    aku sudah menjelma jadi gerimis dan air
    sejak alismataku sampai dagu

    telah tergambar warna langit kelabu
    barisan gerimis, desau hujan,
    dan racau petir yang tak juga serak itu

    dan sesekali kau jadikan sungai
    untukmu bersauh ke entah...

    17 Januari 2014






    Isbedy Stiawan ZS lahir dan hingga kini di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Dipublikasikan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Majalah Sastra Horison, Tabloid Nova, Jurnal Nsional, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Merapi, Padang Ekspres, Haluan, Riau Pos, Lampung Post, Radar Lampung.

    Buku cerpen dan puisinya yang telah terbit antara lain Aku Tandai Tahilalatmu, Menampar Angin, Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Bulan Rebah di Meja Digger, Seandainya Kau Jadi Ikan, Kota Cahaya, Taman di Bibirmu, Dongeng Adelia, Perjalanan Menuju-Mu, Perempuan di Rumah Panggung.















    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS Rating: 5 Reviewed By: r3nc0n9
    Scroll to Top