728x90 AdSpace

  • Berita Terkini

    Saturday, April 19, 2014

    PUISI: ENDANG SUPRIYADI

    Shadow of No Towers (canadianart)
    RASA PIZZA YANG TERPISAH

     di depan gedung aquity tower, penuh langkah
    yang bergegas. dua bayangan gedung,
    melengkung seperti alis matamu yang hitam

    di sebuah meja yang bersebelahan dengan
     dinding kaca, menyuguhi hidangan ala amerika
    dengan suhu sehangat popok bayi yang dijemur

    rasa pizza yang terpisah dari jiwa, jangan
    sampai melegenda ke anak cucu kita. lidah mereka
    tak boleh lupa akan sejarah botok, tumis kangkung,
    sambal petis, oncom, ketela yang dikukus

    kita mengepung meja di beranda siang yang
    gaduh. menu asing yang terhidang di meja,
    seperti topik aktual yang harus dibahas dengan
    pikiran cerdas

    namun sebenarnya hati kita tak ada di situ,
    entah tersangkut dimana. juga tuhan entah
    berada di sebelah mana ketika kita lupa berdoa?
    orang-orang terus berteriak-teriak, soal
    air meneral, menu yang ditambah. dengan mulut
     yang penuh,  lupa bercermin. sedang pisau dan garpu
    bergemerincing di atas piring, membentuk
    simfoni tanpa jiwa

    orang-orang terus bergerak seperti ombak yang
    bergulung-gulung. mencari tepian dunia di atas meja
    kita masih tetap dengan menu yang sama, asing
    di lidah, asing di hati. sedang hati kita adalah sajadah,
    bukan meja yang menghidangi karut marut dunia!

    dalam bising, ada yang tercuri dari matamu, yaitu
    kedamaian. sebuah ruang yang teduh telah
    disusupi suara-suara gaduh. ah, mungkin itu
    suara hatimu yang terlepas ke langit menjelma hujan
    yang membasahi tubuh kita.

    Jakarta, 2012/2013


    AKU MALU PADA ANAKKU


    seseorang menginginkan aku selalu tertinggal
    dibelakang larinya. namun selalu saja
    tangan anakku meletakkan kembali
    langkahku dibarisan paling depan

    ketika orang itu menebang seluruh pohon
    yang melindungi diriku dari terik, lagi-lagi
    tangan anakku ada di sana menjelma payung

    aku tunggu orang itu di simpang jalan,
    untuk menyampaikan hak keberadaanku. tapi
    anakku bilang, “jangan ayah! sebab ia telah
    menjelma selimut di ruang kehidupan
    bagi si pemalas!”

    Depok, 2013


    KELAM


    aku pasak yang kau jadikan arang
    berserak menghitamkan genangan

    mari kemari buih lautan
    di pantai aku menganga bagai kawah
    mengepulkan uap bara ke rongga jiwa

    mari kemari angin kembara
    ladangku tumbuh ilalang
    sumurku berkubang belerang

    aku tirai yang kau jadikan tameng
    koyak moyak menahan titian.

    Depok, 2013

    Falling Toward Mythopoesis (Phantastes illustration)


     TERAPUNG DI LAMPUNG


    kita sudah sampai di hutan bakau. siang nanti,
    kita akan ke anak gunung krakatau, katamu. aku
    menepis debu di bangku. duduk meragu. akankah
    kita sampai ke pantai panjang? aku rindu ombak
    yang gemulai, yang kerap melukis punggung onta!

    carilah dunia di dalam buku, saranmu dari balik
    pintu. aku masih meragu. akankah buku membuka
    pintu gerbang kegelapan untukku?

    sebelum petang, aku akan ke pematang. melihat
    para petani berkeringat sutera; punggungnya berkilau
    diterpa matahari.di situ ada ayahku, katamu. dia pelestari
    adat, sehari-hari mencangkul matahari. sayangnya,
    yang ditemukan adalah bayang dirinya sendiri!

    di situ juga ada ibuku, katamu lagi. limapuluh tahun lau,
    ia sebagai muli muda di kampungku. untuk
    mendapatkannya, kata ayah, lelaki harus berkeringat sutera
    pertanda rajin bekerja.

    kalau kita apa? kataku. kita adalah sebongkah garam
    di meja peradaban. peladang yang tak bercangkul
    kita ibarat gunung krakatau, muncul di laut
    malu berlutut!


    Depok, 2013/2014



    CATATLAH

    aku tak jadi pergi. jembatan itu
    sudah melepuh sebelum kutempuh
    akar pagi menjerat langkahku dengan
    gerimisnya. ada serpihan janji di benakku
    tapi itu sudah kulebur saat badai bertamu

    aku melihat, orang-orang risau melihat keranda
    selalu menawarkan hari agar minggu bisa
    kembali ke sabtu, senin mengalir ke jumat
    tapi siapa yang memberi garis pada detak
    di jantung kita? catatlah

    catatlah pasir yang selalu berjaga-jaga di tepian
    catatlah pohon-pohon nyiur yang memotret
    dunia dari atas bangkai kepiting, bulan yang
    merelakan sepotong tubuhnya dimamah gerhana
    para kekasihku, catatlah

    aku tak jadi pergi. ya, air sungai sudah berbalik arah
    berkubang di kamar-kamar rumahmu. aku
    membiarkan sebuah lilin tetap menyala dari lima
    yang kumatikan. karena cahaya dari lukaku
    cukup membantu untuk melihat kegagalanmu!


    Depok. 2014

       
    GEJALA


    mengelana ke dasar diam,
    kutemukan selongsong peluru di mulutmu
    yang tak meledak. kalimat apa
    yang tercekat di dalam sana?

    bertahun-tahun jejak yang tercipta ini
    begitu sempoyongan. mengekor sampai
    ujung dapur, menekuk di tepi ranjang,
    membusuk di meja makan

    tembang dari segala cuaca membentuk
    simfoni yang buruk. di tiap kelokan waktu
    terendus aroma belerang, udara yang kejang
    ah, di mana-mana tumbuh ilalang!

    mengelana ke dasar diam,
    sebuah laut dan sebuah perahu
    berada dalam rejam gelombang
    namun di sisi ingatan, lahir bualan!


    Depok, 2014



    --

    Endang Supriadi, lahir di Bogor 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen secara otodidak sejak tahun 1983. karya-karyanya dimuat dipelbagai media cetak pusat dan daerah seperti, Suara Karya, Republika, Merdeka, Media Indonesia, Pelita, Berita Buana, Berita Yudha, Swadesi, Pikiran Rakyat, Nova, Lampung Post, Anita Cemerlang, HAI, Nona, Singgalang, Majalah Sastra Kolong, Majalah Puisi Diksi, Buletin Kreatif HP3N, Trans Sumatera, Bentara Budaya Kompas, Horison, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Jurnal Nasional.

    Sebagai juara I Lomba Cipta Puisi SPSI Tingkat Nasional (1992), Juara Harapan I Lomba Cipta Puisi Hutan Eboni Tingkat Nasional (1994), Sepuluh Terbaik Lomba Cipta Puisi Batu Beramal I (1994), Juara I Lomba Cipta Puisi Batu Beramal II (1995), Sepuluh Terbaik Lomba Cipta Puisi Dewan Kesenian Mojokerto (1998), Nominasi Lomba Cipta Puisi Perdamaian ‘Art and Peace’ Bali (1999), Nominasi Lomba Cipta Puisi Borobudur Award (2000), Pemenang Lomba Cipta Puisi Seratus Tahun Bung Hatta (2002), Pemenang Lomba Cipta Puisi Seratus Tahun Bung Karno
    (2000), Juara III Lomba Cipta Puisi Krakatau Award (2002), masuk 15 Nominasi Lomba Cipta Puisi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, (2006).

    Beberapa puisinya terkumpul dalam antologi puisi Sembilan Penyair Menatap Publik, Batu Beramal I dan II, Kebangkitan Nusantara I dan II, Cerita dari Hutan Bakau, Nuansa Hijau, Getar, Sahayun, Dari Bumi Lada, Songket I, Trotoar, Mimbar Penyair Abad 21, Kaki Langit Kata-kata, Jakarta Jangan Lagi (selipan jurnal kolong), Antologi Puisi Indonesia (KSI 1997), Antologi Puisi Borobudur Award, Resonansi Indonesia (antologi puisi dwibahasa Cina-Indonesia 2000), Datang dari Masa Depan, Gelak Esai& Ombak Sajak Anno 2001, Antologi Puisi Bentara Kompas, editor Sutardji Calzoum Bachri, Jakarta Dalam Puisi Mutakhir, Nyanyian Integrasi Bangsa (2001) Lampung Kenangan-Antologi Puisi Krakatau Award 2002, Antologi Puisi Malam Bulan, 2002, Konser Ujung Pulau- Lampung Art Festival (2002), Bung Hatta dalam Puisi (2003), Bisikan Kota, Teriakan Kota, Kota Yang Bernama dan Tak Bernama-Dewan Kesenian Jakarta, 2003,Puisi Tak Pernah Pergi 2003-Anotologi Puisi Bentara Kompas, editor Sutardji Calzoum Bachri, Narasi dari Pesisir, antologi puisi Krakatau Award 2004, Bumi Ini Adalah Kita Jua, Antologi Puisi Kado Buat: SBY (2005), dan Jogya 5,9 Skala Richter (2006), Dermaga Kota Tua (puisi-puisi pesisir, bersama Slamet Rahardjo Rais, Penerbit Perpustakaan Umum Kota Madya JAKUT, 2007), Antologi Penyair Depok, Gong Bolong (2008), Tanah Pilih, (Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I-2008), Kenduri Puisi (Buah Hati Untuk Diah Hadaning – 2008), Jejak Sajak (sehimpun puisi generasi kini, 2012), Narasi Tembuni (kumpulan puisi terbaik KSI Award 2012), Antologi Sastra Nusantara, penerbit Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2012, dan Antologi Puisi Menolak Korupsi, Penerbit Forum Sastra Surakarta, 2013.

     Puisi Tunggalnya: Tontonan Dalam Jam (1996), Lumpur di Mulutmu (2010).Lima buah cerpennya dijadikan skenario audiovisual untuk sinetron televisi: Lelaki itu Bernama Oding, Sosok Bertopeng, Protes, Sumirah dan Dendam.

    Diundang pada Temu Penyair se-Indonesia tahun 1994 dan 1996 di batu Malang, diundang pada Temu Penyair Sumatera, Jawa dan bali oleh Dewan Kesenian Lampung th. 1996, sebagai peserta Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki th. 1996, sebagai peserta pada Pertemuan Sastrawan Nasional ke IX dan Pertemuan Satrawan Indonesia di Kayutanam Sumatera Barat th. 1997, diundang pada Pertemuan Penyair oleh Dewan Kesenian Mojokerto th. 1998, dan salah satu juri dalam Lomba Cipta Puisi Anti Kekerasan KSI Award 2001. Sebagai perserta pada acara Sastra Kota DKJ Th. 2003, sebagai peserta MPU ke-1 di Anyer Th. 2004, sebagai perserta MPU ke-2 di Bali Th. 2006, dan diundang sebagai peserta Lampung Art’s Festival Th. 2007 oleh Dewan Kesenian Lampung. Salah satu Panitia Kongres Komunitas Sastra Indonesia ke-1 Th. 2008 di Kudus, Jawa Tengah. Sebagai peserta MPU ke-3 di Lembang-Bandung Th. 2008, sebagai peserta MPU ke-4 di Solo Th. 2009, sebagai peserta MPU ke 7 di Yogyakarta Th. 2012, Road show pembacaan Puisi Menolak Korupsi di Halaman Gedung DPRD Kota Tegal Th. 2013, dan pernah beberapa kali diundang baca puisi di studio RRI Jakarta. Kini tinggal di Depok. Jawa Barat.

    Alamat email : endang_supriadi010860@yahoo.co.id, FB :endang.supriadi.7@facebook.com
    Alamat Rumah:  Jl. KH. Ridi RT003/02 No. 96, Kel. Pondok Jaya, Kec. Cipayung – Depok 16431
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: PUISI: ENDANG SUPRIYADI Rating: 5 Reviewed By: r3nc0n9
    Scroll to Top